Langsung ke konten utama

Mengenai Saya

Foto saya
Sarah
Harapannya blog ini nantinya bisa membantu teman-teman ketika menemani kegiatan ananda, terutama di masa preschool atau penerapan homeschooling. Walaupun mungkin enggak perfect aka banyak kurang sana-sini, setidaknya menyisipkan ide kegiatan sederhana bersama ananda di rumah. Selain itu, rencananya saya juga akan berbagi tentang seputar pengalaman saya sejak masa hamil, literasi dini dan read aloud, juga membersamai tumbuh-kembang putri pertama kami. Sesekali akan disertakan pula resep masakan dan baking. Selain untuk arsip pribadi saya saat lupa, harapnya dapat membantu pembaca blog ini di kala bingung menentukan menu atau saat ingin cemilan. Semoga bisa menulis yang bermanfaat dan yang paling penting adalah... saya bisa konsisten. :-D Bismillah, doakan saya ya... \^_^/

Human Brain Development, apa lagi ini?

Human Brain Development ini apa sih?

Seperti pada obrolan Literasi Dini   pada post sebelum ini, Human Brain Development ini juga seru banget dibahas. Biar lebih mudah, yuk kita lihat grafik di bawah ini dulu πŸ‘‡

 

sumber : otakanak.id
 
 Dari grafik di atas jadi ada gambaran ya, gimana sih perkembangan otak manusia itu, sejak kapan dimulainya dan yang tak kalah penting, apa yang harus kita lakukan?
 
Amazing, ternyata perkembangan otak manusia itu sudah dimulai sejak dalam kandungan. Mashaa Allah πŸ’• 
 
Yuk, kita bahas satu per satu πŸ˜‰
 
πŸ‘€πŸ‘‚ Seeing/ Hearing πŸ‘‰ Dari kandungan, Puncak di usia 4-5 bulan
Tahap ini berkaitan dan berbarengan dengan emosi anak. Hal yang dapat kita lakukan adalah memberikan intonasi ketika berbicara.
 
Pernahkah kita mendengar kalau cara paling cepat bayi belajar bahasa adalah "mother is..."?
 
Yup, itulah mengapa kita perempuan memiliki suara yang ada intonasinya, secempreng apapun suara kita πŸ˜‚. Ini juga alasan mengapa seorang ibu dianugerahkan hormon oksitosin yang lebih tinggi dari para ayah, karena ia diberi peran lebih untuk mengasuh. Hal ini berbarengan pula dengan mendidik emosi.
 
Bagaimana cara kita berbicara pada anak?
Berbahasalah pada anak secara interaktif, kita perlihatkan mimik wajah, intonasi suara yang jelas (ada naik-turunnya), tidak terlalu cepat dan berulang. 
 
Cara berbicara yang holistic, mindfull, menatap anak ketika berbicara, cara-cara seperti  merupakan dasar kita berkomunikasi dengan anak hingga kelak nanti.
 
Pada satu sesi kelas yang saya ikuti, Dr. Irnova dari otakanak.id menyampaikan "apakah boleh bilang JANGAN pada anak?"
 banyak ya pro dan kontra tentang ini...

Sebenarnya, bukan kata "jangan"-nya yang tidak boleh, namun konteks-konteks lain seperti mimik wajah, intonasi suara yang terlibat tersebut yang dapat mempengaruhi persepsi anak.

Jadi, bahasa adalah cara berbicara pada anak dengan interaktif dan anak merespon. Apabila hal ini telah berlangsung, maka stimulasi yang kita lakukan telah berlangsung dengan kata lain, kita berhasil untuk tahap respon tercepat bayi.

πŸ‘„ Receptive Language πŸ‘‰ Dari kandungan, puncak di usia 9-10 bulan
Dalam tahap ini, anak memahami apa yang kita bicarakan.
 
Penting bagi kita dan anak berintekasi dengan mimik, sentuhan wajah (anak memegang wajah kita, mata, pipi, hidung), dari sini anak belajar mengindentifikasi emosi. Hal ini dalam rangka anak memahami apa yang kita sampaikan. Beginilah cara bayi secara NATURAL belajar berbahasa. Natural sudah siap dari lahir. Sirkuit di otaknya sudah siap. 
 
Bagaimana dengan anak speech delay?
Area stimulatif ini juga berkaitan dengan speech delay. Solusinya, berbicaralah dengan interaktif pada anak. Seperti yang pernah saya tulis tentang kemampuan berbahasa lalu, caranya bisa beragam, mulai dari bercakap-cakap, bernyanyi, membacakan buku-buku berima dan kata berulang, bahkan hanya dengan bermain.
 
kemudian, timbul pula pertanyaan lain seperti "mengapa gadget menjadi salah satu penyebab speech delay?" 
Hal ini karena gadget tidak bisa dipakai untuk interaktif dengan baik. Hanya satu arah, bayi dan hal yang di dalam gadget tidak bisa saling merespon secara langsung. Oleh sebab itu, jika sudah "masuk" gadget terlebih dahulu, maka stimulasi interaktifnya harus semakin kencang.

πŸ‘Ά Speech Production ini sama seperti Receptive Language 
Setelah sebelumnya anak telah belajar mengidentifikasi, saatnya anak mengeluarkan pikirannya. Dimana anak memproduksi kalimat-kalimat atau bahasa ekspresinya (expression languange).  Ini adalah yang menjadi DASAR MENULIS , karena menulis bukan hanya menyalin.
 
Kemampuan berpikir tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menulis. Oleh karena itu, melatih anak tidak hanya tentang melatih otot tangannya dengan aktivitas sensory play. Persiapan menulis yang pertama adalah mempersiapkan proses berpikirnya anak. Anak mampu mengemukakan gagasan. Kita tidak memaksa anak untuk mengikuti mau kita.

Misalkan ketika anak membaca cerita, berita, atau soal cerita, anak akan dapat menemukan korelasi dan makna dari apa yang dibacanya. Begitupula ketika anak menulis diari, anak bukan hanya menulis, namun juga berpikir (menyusun kalimatnya).

Berikan anak pilihan juga ruang untuk berpendapat untuk mengasah kemampuan anak menulis. 

Jika kita berpikir bahwa menulis itu adalah untuk menyalin soal dan menulis jawaban pertanyaan dengan tulisan, maka kita hanya perlu melatih otot anak.

NAMUN,

Jika kita berpikir bahwa menulis adalah sarana berkomunikasi, dimana anak dapat menghasilkan karya tulis dan dapat menjabarkan pemikirannya kepada orang lain, maka itu adalah bahasa tulis dari hasil pikiran.

 Mana yang ingin kita pilih?

1. Anak yang hanya memiliki tulisan bagus?

2. Anak yang mampu menghasilkan karya tulis?

Jika ingin keduanya, maka mulailah dengan menstimulasi anak, membaca buku, dan dengan "mother is..." atau berbicara kaya intonasi.

Higher Cognitive Functions πŸ‘‰ puncaknya di usia 4-5 tahun

Tahap ini adalah proses berpikir tingkat tinggi.

Saat proses identifikasi dan analisis telah ada sejak bayi, maka itulah yang menentukan anak-anak belajar mandiri. Potensi anak keluar, apa yang menarik baginya akan ia kerjakan. Hal ini bisa berlangsung hingga usianya remaja (11-12 tahun). Dari sini kita akan mengetahui bakat dan minat anak ada dimana dan ini dihasilkan dari motivasi dirinya sendiri.

Ketika anak belajar calistung (biasa di usia 6 tahun), dimulai belajar fonologi, sebelumnya kita dapat mengamati motivasi dari diri anak apa? misalkan ia suka main block building merancang menjadi sesuatu atau apapun yang anak suka dan ia melakukannya tanpa disuruh. Dari kegiatan bermain mereka ini kita dapat mengamati dari awal bahwa anak mempelajari pola-pola dan bereksperimen sendiri.  Banyak dari kita tidak menyadari, ini adalah kunci saat anak membaca seolah-olah ia bisa membaca natural atau tiba-tiba.

Biasanya anak yang secara natural bisa membaca disebabkan karena

  1. Cara baca kita yang fonologinya jelas
  2. Ketika membaca kita menunjuk teks
  3. Pengaruh anak hafal terhadapa apa yang kita tunjuk (memori). 

 Berbicara tentang membaca ini, saya juga baru mengetahui jika membaca yang diinstruksikan (fonologi) di usia sekolah dasar adalah membaca dengan cara decoding system dimana bunyi yang dirangkai jadi kata.

Decoding system ini terbukti secara scientific selama berpuluh tahun adalah cara membaca yang dapat menyebabkan anak dapat membaca teks sulit di kemudian hari.

Nah, pembaca natural tetap harus diberi instruksi terstrukrur (decoding system) bertujuan untuk mempersiapkan anak membaca teks sulit. Karena jika tidak, ketika anak menemukan teks yang lebih sulit, anak akan menyerah. Ini menjadi penyebab anak yang berminat membaca, tiba-tiba seperti kehilangan minat untuk membaca sendiri/ingin selalu dibacakan saja.

Semoga bermanfaat ya. Salam literasi πŸ’–

Komentar

  1. alhamdulillah anak saya sudah bisa membaca dan sangat suka membaca...tapi saya belum menemukan bakat dia itu apa ya...

    BalasHapus
  2. wow, tambah informasi yg menarik..Semoga kalo besok punya anak bisa mengarahkan dia dengan baik ..hehe..sekarang cari jodohnya dulu saja..heheh..terima kasih Mbak

    BalasHapus
  3. Info yang super nih. Para ibu hamil/yang akan merencanakan kehamilan wajib tahu ��

    BalasHapus
  4. Apakah decoding itu sama dengan phonic ya mba? Anak2 disini juga menggunakan metode phonic untuk membaca tetapi emang karena membaca dengan bahasa inggris itu lbh sulit karena sering gak match pengucapaan saat huruf nya tunggal dengan saat hurufnya membentuk kata. Beda dengan bahasa indonesia yang pelafalan nya konsisten

    BalasHapus
  5. Wah, iya juga ya. Intonasi ketika berbicara "jangan" nya itu yang kadang jadi masalah. Karena kalau udah bilang "jangan" biasanya nadanya udah mulai naik dikit nih, hihi

    BalasHapus
  6. Aku belum punya anak tapi paling seneng ajak ngobrol sama anak-anaknya temen aku atau ponakan aku, responnya gemes-gemes. Eh ternyata salah satu anak temenku mengalami speeh delay juga dan katanya cara aku ngajak ngobrol gitu emang dianjurkan. Dan speech delay nya itu ya kaya kata mba, gara-gara dikasih gadget terus :") makasih mba infonyaa, bagus banget

    BalasHapus
  7. Sebagai ibu, informasi ini sangat menarik, Mbak... Aku share di twitter ah, jd kapan-kapan pingin baca artikel ini gampang nyarinya hehe^^

    BalasHapus
  8. Alhamdulilah ni tulisan bergizi mbak. Banyak informasi yg bikin kita manggut2. "Oh gini toh ilmiahnya. Semoga makin banyak ortu yang menjadi paham sehingga membantu perkemvangan otak anak makin maksimal ya

    BalasHapus
  9. Iya ya, tidak sekadar menulis, tapi anak mampu mengungkapkan perasaannya lewat tulisan itu...

    BalasHapus
  10. Pelajaran psikologi yang sangat berarti bagi kehidupan kita sehari-hari, terimakasih ilmu pengetahuan Mbak..

    BalasHapus
  11. dapat ilmu baru, semoga nanti kalo punya anak bisa kasih contoh yang baik dan jadi orang tua yang bijak hihi terima kasih ilmunya mbak

    BalasHapus
  12. ini ilmu baru. terima kasih mbak. jadi bertambah ilmu untuk membersamai anak-anak. belajar terus menjadi orang tua yang bijak dan menyenangkan untuk anak-anak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO STRESS MOM, Tips Buat Kegiatan Seru Berfaedah Di Rumah Bersama Anak

 Tak terasa sudah lebih setengah tahun di rumah aja bersama keluarga. Kita jadi lebih mengenal masing-masing karakter anggota keluarga, terutama anak-anak, harusnya ikatan bonding bersama anak lebih kuat ya. Gimana enggak, tujuh bulan sudah kita bersama mereka 24 jam ! Kita jadi tahu kan gimana anak saat belajar, yang biasanya bisa "marah" sama guru karena dapat laporan tentang anaknya, sekarang jadi tahu gimana selama ini para guru menghadapi anak-anak selama proses belajar mengajar di sekolah. Kalau sebagai orang tua saja kesulitan, bagaimana lagi orang lain? 😭 Angkat topi untuk semua guruπŸ’–. Sejujurnya ada sesak setiap kali saya membaca berita tentang bagaimana orang tua "memarahi" guru sekolah anaknya karena kesulitan mendampingi belajar daring di rumah. Paling sakit saat ada kasus orang tua yang membunuh anaknya karena tidak sabar mendampingi belajar di rumah. Padahal anaknya baru kelas 1 SD ! Yaa Allah, menangis kami, itu seusia putri kami😒. Berikut saya

Literasi Dini, sekedar keterampilan baca, tulis, hitung-kah?

Saya berpikir, literasi dini itu adalah keterampilan baca, tulis, hitung saja. Mengapa baca-tulis-hitung yang kemudian disingkat CALISTUNG? Tentu saja karena biasa calistung digunakan sebagai sarana komunikasi antara pengajar dan yang diajar.     Bunda lagi belajarπŸ˜„ Hikmah selama di rumah aja karena pandemik ini, saya jadi bisa mengikuti kelas-kelas yang sesuai dengan kebutuhan dan passion saya secara online . Kelas yang paling banyak saya ikuti tentu saja yang berkaitan dengan anak, mengingat anak-anak saya masih usia balita dan anak awal sekolah πŸ˜„. Ada kelas yang saya mengikuti sampai beberapa kali saking menariknya, yaitu tentang literasi dini dan otak anak . Mashaa Allah, ingin rasanya saya menulis semua materi penuh daging itu di sini, semoga niat baik itu dapat mengalahkan kemageran yang enggak kalah kuat mengikatπŸ™ˆ Ternyata literasi dini sebagai kemampuan calistung yang selama ini saya pikir hanya sebatas itu SALAH! Bukan salah total sih sebenarnya. Hanya saja, pengertian l